Minggu, 26 April 2026

Kidung Lakbok (Kila-Kila): Dokumen Hidup tentang Runtuhnya Banjarpatroman dan Janji "Nu Geus Tilem, Nyata Geus Timbul deu

BABAD LAKBOK
 
Babad Lakbok atau sering juga disebut Kidung Lakbok, Kidung Lagok, atau Kidung Kila-Kila adalah naskah sastra lama dan sumber sejarah utama yang menceritakan asal-usul wilayah Lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
 
Naskah ini tidak hanya berisi kisah sejarah, tetapi juga memuat ramalan atau firasat tentang masa depan daerah tersebut, sehingga disebut sebagai Kila-Kila.
 
 
 
Etimologi (Asal Nama)
 
Kata "Lakbok" sering disalahartikan secara populer. Berdasarkan naskah asli Babad Lakbok, nama ini berasal dari singkatan:
 
PATLAK SILIH CABOK
 
Yang berarti bertarung, saling serang, atau berperang. Nama ini diberikan karena wilayah ini dulunya adalah tempat terjadinya pertempuran besar memperebutkan tahta kerajaan.
 
 
 
Isi Cerita
 
Kerajaan Banjar Patroman
 
Cerita bermula dari masa kejayaan Kerajaan Banjar Patroman yang sangat besar dan makmur. Terjadi konflik perebutan kekuasaan antara dua tokoh besar, yaitu:
 
1. Ratu Indang Buana
2. Ratu Agung Tambak Baya
 
(Dalam naskah kuno, gelar "Ratu" digunakan bagi pemimpin yang memiliki kesaktian tinggi, tidak terbatas pada gender perempuan).
 
Batas Wilayah Pertempuran
 
Pertempuran dan penentuan batas wilayah terjadi di tempat-tempat bersejarah yang namanya masih digunakan hingga saat ini, antara lain:
 
- Ngarengkol di Pasir Jengkol
- Ngawang di Batu Lawang
- Nyingkur di Gunung Sangkur
- Runda Grandek di Randeggan
- Nganti di Manganti
 
Wilayah pertempuran ini sangat luas, membentang dari Batu Nunggul hingga Manganti (melewati Karangambel).
 
Terjadinya Rawa Lakbok
 
Di tempat bernama Manganti, orang tua kedua tokoh tersebut nunggul atau menunggu hasil pertarungan anak-anaknya. Melihat pertikaian yang tidak berkesudahan, mereka kecewa dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa.
 
Muncullah Sapata Dewa (kutiban/sumpah):
 
- Alam menjadi gelap gulita.
- Penduduk dan makhluk di sekitarnya berubah wujud menjadi hewan seperti sidat, onong, kera, dan bagong.
- Wilayah ini berubah menjadi Rawa Lakbok, yang dalam cerita digambarkan sebagai rawa terdalam di dunia.
 
 
 
Ramalan (Kila-Kila)
 
Di bagian akhir naskah, terdapat firasat atau ramalan yang terkenal:
 
"Isukan jaga ninggeto, bakal muncang labuh kapu, kebomulih pakandangan."
 
Artinya: "Suatu saat nanti, masa kejayaan lama akan kembali pulih. Wilayah ini akan kembali menjadi pusat pemerintahan dan kemakmuran seperti zaman kerajaan dahulu."
 
 
 
Daftar Pustaka
 
1. Purwanto, Henri. Dokumentasi Sejarah dan Budaya Lakbok.
2. Wawatjan Kidung-Lakbok, M. Karso Prawiraatmadja.
3. Tutur Lisan dan Tradisi Lisan Masyarakat Lakbok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar