Minggu, 26 April 2026

Kidung Lakbok: Dari Naskah Kuno 'Riwadjat Bandjarpatroman' hingga Wayang Kila — Menjemput Cahaya yang Terpendam"

Judul: Kidung Lakbok: Dari Naskah Kuno, Wayang Kila, Hingga Menjemput Cahaya yang Terpendam

Penulis: Henri Purwanto

Tanggal: [26-April-2026]

Kategori: Naskah & Literatur, Budaya, Sejarah Lokal

---

Pembuka: Lebih dari Sekadar Tembang

Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar kata "Kidung"? Mungkin sebuah lagu, syair pujian, atau tembang yang dinyanyikan. Namun, Kidung Lakbok ternyata menyimpan makna yang jauh lebih dalam.

Setelah bertahun-tahun mendalami, menyalin, dan merawatnya, saya ingin mengajak Anda menyelami kembali warisan leluhur kita. Bukan hanya sebagai naskah usang, tetapi sebagai "cahaya terpendam" yang bisa meneruskan pesan moral hingga ke generasi sekarang.

Artikel ini adalah sebuah rangkuman — sebuah cerita tentang perjalanan, tantangan, harapan, dan sebuah seni pertunjukan yang lahir dari semangat melestarikan identitas.

---

Bagian 1: Apa Itu Kidung Lakbok? (Sebuah Klarifikasi)

Banyak yang bertanya-tanya, bahkan keliru mengira bahwa Kidung Lakbok adalah sebuah lagu daerah. Saya ingin meluruskan sejak awal:

Kidung Lakbok adalah NASKAH KUNO.

Judul aslinya adalah "Riwadjat Bandjarpatroman". Naskah ini ditulis dalam Bahasa Sunda Kuno dengan Ejaan Van Ophuijsen (ejaan lama yang dulu digunakan). Jadi, jika Anda melihat kata seperti djeung, hidji, atau nagri, itu bukan salah ketik, melainkan upaya kami untuk mempertahankan keasliannya.

Eusi (isinya) luar biasa padat, dan bisa dibagi menjadi tiga bagian utama:

1. Sejarah & Perang Saudara: Kisah tragis antara Ratu Ineung Buana dan Ratu Agung Tambakbaja. Dari konflik inilah muncul pesan moral paling kuat: "Pamali tarung jeung dulur" (Dilarang berperang dengan saudara sendiri).
2. Tempat-Tempat Gaib & Bersejarah: Naskah ini menyebut lokasi-lokasi spesifik di wilayah Lakbok, seperti Batulawang, Gunung Sangkur, dan Gunung Babakan. Jelajahi tempat-tempat ini, dan Anda akan merasakan denyut sejarah yang masih hidup.
3. Ramalan "Bandjar Bakal Bandjir": Ini bagian yang paling menarik sekaligus membuat merinding. Naskah meramalkan bahwa wilayah ini akan dilanda banjir besar. Terbukti pada tahun 1950, terjadi banjir bandang dahsyat. Tapi maknanya lebih dalam: "bandjir" juga bisa berarti banjir darah (perang) atau banjir masalah jika kita lalai menjaga persatuan.

---

Bagian 2: Proses Panjang Menjemput Cahaya (2013 – Sekarang)

Naskah asli Riwadjat Bandjarpatroman sudah sangat tua, aksaranya mulai luntur, dan kertasnya rapuh. Saya mulai meneliti dan menyalin ulang naskah ini pada tahun 2013.

Mengapa saya lakukan?

Sederhana: "Ulah poho ka asal, ulah poho ka basa." Jangan lupa pada asal-usul, jangan lupa pada bahasa.

Prosesnya tidak mudah. Bertahap, sabar, dan kadang membuat pusing. Tapi setiap kali membaca bait-baitnya, saya semakin yakin bahwa ini bukan sekadar tulisan kuno. Ini adalah "KTP"-nya masyarakat Lakbok. Ini adalah bukti bahwa Lakbok bukanlah daerah yang "kosong" sejarah. Lakbok adalah tempat élmu.

Hasil dari penyalinan itu, sejak tahun 2016, bisa Anda akses secara gratis di Wikisumber (Wikisource Indonesia) dengan judul Kidung Lakbok. Saya sengaja membagikannya di ranah publik agar siapa pun, di mana pun, bisa membaca dan mempelajarinya.

---

Bagian 3: Lahirnya Wayang Kila, Seni dari Jerami

Tulisan di atas kertas saja tidak cukup. Kami ingin Kidung Lakbok hidup dan dilihat.

Dari situlah lahir Wayang Kila.

· Asal Nama: Diambil dari inisial tokoh "Ki Dug Lakbok".
· Bahan Utama: Jarami paré (jerami padi). Ini sangat simbolis, menunjukkan kedekatan kita dengan alam dan pertanian.
· Cerita: Diangkat langsung dari naskah Kidung Lakbok, terutama tentang bahaya perpecahan dan pentingnya menjaga alam.

Pada 24 November 2015, kami melakukan peluncuran (launching) Wayang Kila dengan lakon Kidung Lakbok. Itu adalah momen bersejarah. Untuk pertama kalinya, pesan leluhur yang selama ini hanya terbaca, bisa disaksikan dalam bentuk pertunjukan seni. Dokumentasi video dari acara ini masih bisa Anda saksikan di kanal YouTube kami.

Wayang Kila bukan sekadar hiburan. Ini adalah media pangéling — media pengingat. Mengingatkan kita bahwa hidup harus rukun, hormat pada alam, dan jaga persatuan.

---

Bagian 4: Menjemput Cahaya yang Terpendam (Visi ke Depan)

Perjalanan belum selesai. Saya membayangkan Kidung Lakbok tidak hanya menjadi koleksi pribadi atau tontonan sesekali. Saya membayangkannya sebagai gerbang kearifan yang terbuka untuk semua.

Beberapa langkah yang sedang dan akan kami lakukan:

1. Pusat Referensi Digital: Menyatukan semua materi (naskah, artikel, peta lokasi, video) di satu "rumah" digital agar mudah diakses.
2. Dokumentasi Wayang Kila yang Lebih Massif: Merekam pertunjukan dan mengunggahnya ke YouTube, TikTok, dan media sosial lainnya.
3. Pelibatan Generasi Muda: Mengadakan lomba menggambar, baca puisi, atau konten kreatif bertema Kidung Lakbok.
4. Kerjasama dengan Dinas Arsip & Perpustakaan Daerah: Mengusulkan naskah ini menjadi Aset Budaya Daerah Kabupaten Ciamis.
5. Versi Ringan untuk Pelajar: Membuat edisi khusus untuk anak sekolah dengan ejaan modern, glosarium, dan ilustrasi.

Dan yang paling penting, saya akan terus menyuarakan satu pesan inti yang menjadi jantung dari Kidung Lakbok:

"Pamali tarung jeung dulur."
Jangan berperang dengan saudara sendiri. Karena perpecahan hanya akan membawa bencana.
Dan ingatlah, "Bandjar bakal bandjir" — baik banjir air, banjir darah, maupun banjir masalah — akan datang jika kita lalai.

---

Penutup: Cahaya Itu Ada di Tangan Kita

Kidung Lakbok bukanlah milik saya pribadi. Ini milik kita semua, terutama masyarakat Lakbok dan seluruh pecinta budaya Sunda.

Saya percaya pada pepatah: "Nu geus tilem bakal timbul, nu geus leungit bakal kapanggih." (Yang sudah tenggelam akan muncul, yang sudah hilang akan ditemukan).

Kita sekarang sedang berada di momen untuk menjemput cahaya itu. Bapak/Ibu, Saudara/i, dan generasi muda adalah bagian dari proses ini. Mari kita rawat bersama.

Sekali lagi: Lakbok lain tempat gélo. Lakbok téh tempat élmu.

Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung, bertanya, mengkritik, dan memberi semangat. Terima kasih kepada leluhur yang telah meninggalkan warisan tak ternilai.

Salam budaya, salam hormat, dan tetap eling (ingat).

— Henri Purwanto
Penjaga Sejarah & Pencinta Budaya Lakbok

---

[Tambahan: Tautan & Referensi]

· Baca naskah asli: [[https://id.wikisource.org/wiki/Kidung_Lakbok|Kidung Lakbok di Wikisource]]
· Tonton launching Wayang Kila (2015): 
· Baca artikel "Kupas Tuntas" (2016): https://henripurwantosumanding.wordpress.com/2016/06/22/kupas-tuntas-kidung-lakbok/
· Baca manifesto "Menjemput Cahaya" (2026): https://henripurwantosumanding.wordpress.com/2026/04/24/menjemput-cahaya-yang-terpendam/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar